pariwisata

5 Dampak Pariwisata Terhadap Penyakit Menular

Peningkatan perkembangan sektor pariwisata yang meningkat secara signifikan dalam dua dekade belakangan ini, secara langsung meningkatan distribusi penyakit yang semakin dinamis. Dipengaruhi oleh kecepatan mobilitas populasi, jarak tempuh, dan jumlah wisatawan, pariwisata selain meningkatkan interaksi antar manusia di belahan bumi manapun juga meningkatkan interaksi dengan mikroba penyebab penyakit.

Tak dapat dipungkiri bahwa sektor pariwisata adalah bagian yang sangat integral terhadap perkembangan ekonomi negara yang mendukung perdagangan internasional, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan wawasan sosial terhadap kultur lain, dsb. Namun, peningkatan jumlah traveler dan mobilitas penduduk yang begitu tinggi dalam dua dekade ini berkontribusi secara signifikan dalam menurunkan barrier geografis yang mendukung penyebaran penyakit menular ke lokasi dan populasi baru. Fakta ini apabila tidak ditanggapi dan ditangani dengan baik, secara langsung dapat berdampak negatif terhadap sektor pariwisata itu sendiri.

Lima hubungan erat antara mobilitas penduduk dan penyebaran penyakit akan dipaparkan sebagai berikut:

1. Kondisi Imigran Pencari Suaka

Salah satu alasan terbesar yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk bermigrasi adalah alasan yang sama yang menyokong munculnya penyakit menular baru dan/atau terjadinya wabah. Alasan tersebut juga seringkali menjadi tantangan untuk mencegah runtuhnya sistim dan struktur pengendalian penyakit menular yang sudah terbentuk. Kemiskinan, kepadatan penduduk, penindasan kedaulatan dan korban perang, serta kegagalan ekonomi, tidak hanya mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk berpindah namun juga mengakibatkan runtuhnya infrastruktur kesehatan masyarakat, ketersediaan tempat tinggal, kecukupan air yang laik minum, sanitasi, dan edukasi. Meningkatnya pengungsi Afghanistan, Sudan, dan Somalia yang mencari suaka di Indonesia adalah salah satu contoh yang tepat yang dapat meningkatkan potensi migrasi penyakit secara internasional kepada populasi lokal Indonesia.

2. Importasi Patogen Internasional

Proses migrasi dapat dengan sendirinya menjadi tantangan fisik, psikologis, dan sosioekonomi yang cukup signifikan. Secara khusus, migrasi massal sendiri meningkatkan risiko penularan penyakit pada kondisi pengungsi yang mengalami malnutrisi, berasal dari negara dengan ketersediaan air layak minum yang kurang, sanitasi yang buruk, serta kepadatan mobilitas pengungsi. Dalam beberapa kasus, kondisi selama proses migrasi tersebut dapat mendorong penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dan tidak diregulasi, sehingga berpotensi untuk menyebarkan mikroba yang resisten terhadap obat. Selain itu, juga meningkatnya penularan berbagai penyakit yang terkait dengan kepadatan penduduk dan ventilasi yang buruk (seperti tuberkulosis, influenza, pneumonia, dll).

3. Peningkatan Pariwisata Internasional

Pola wisata berhubungan erat dengan wabah penyakit. Mereka yang sering bepergian melalui jalur udara maupun laut, baik untuk liburan maupun pekerjaan, mempercepat penyebaran penyakit secara internasional. Rute pariwisata, jaringan aviasi, jumlah keberangkatan di pelabuhan udara dan laut, jumlah penumpang, dan besarnya pesawat dan kapal mempunyai pertimbangan yang penting dalam mengestimasikan penyebaran wabah modern. Untuk beberapa jenis infeksi, simulasi menunjukkan bahwa restriksi pariwisata, terutama isolasi kota-kota besar, adalah komponen yang dibutuhkan untuk strategi penanggulangan wabah. Pola wisata udara saat ini, terutama dapat mempercepat penyebaran pandemi Influenza yang dikarenakan meningkat pesatnya jumlah wisatawan dan penerbangan komersil. Sebagai perbandingan, jumlah wisatawan internasional pada tahun 1968 hanya sekitar 160 juta, angka ini meningkat hingga 1.322 miliar kedatangan internasional pada tahun 2017. Angka tersebut dinyatakan tertinggi dalam 7 tahun terakhir oleh UNWTO World Tourism Barometer, dengan tren yang akan terus meningkat di tahun 2018.

4. Kurangnya Pengawasan Yang Terintegrasi dan Kesadaran Pencegahan Penyakit Menular

Salah satu protokol yang penting dalam pengendalian penyakit menular melalui sektor wisata, baik melalui jalur laut maupun udara adalah penggunaan sebuah dokumen pembuktian yang menyatakan bahwa wisatawan telah melakukan tindakan preventif. Dokumen resmi yang diakui oleh seluruh dunia dinamakan Sertifikat Vaksinasi Internasional atau International Certificate of Vaccination and Prophylaxis (ICV atau ICVP). Dokumen tersebut menjadi dasar pembuktian bahwa seorang wisatawan telah melakukan vaksinasi atau pengobatan pencegahan terhadap suatu penyakit tertentu sebelum bepergian. Contoh yang paling umum yang diketahui oleh masyarakat Indonesia adalah penggunaan ICV sebagai persyaratan keberangkatan Umroh. Pada kasus ini penggunaan ICV adalah sebagai pembuktian bahwa seseorang tersebut telah melakukan vaksinasi terhadap penyakit radang selaput otak yang bernama Meningitis.

Namun, seharusnya penggunaan ICV tidak hanya untuk vaksinasi Meningitis saja, namun juga sebagai pencegahan penyakit menular lain. Apabila penggunaan ICV dapat diterapkan sebagai persyaratan dalam pengurusan dokumen wisata (visa) untuk seluruh wisatawan (terutama keberangkatan dan kedatangan internasional), maka hal ini dapat meminimalisir terjadinya impor dan ekspor penyakit dari sektor pariwisata.

5. Interaksi Wisatawan Dengan Penduduk Lokal

Interaksi yang dinamis antara wisatawan, mikroba, dan destinasi wisata terjadi dalam pola lingkaran. Wisatawan dapat saja tanpa sadar menjadi carrier yang membawa patogen dari negara asalnya dan menularkannya ke populasi lokal, ataupun sebaliknya. Tidak jarang juga, wisatawan melakukan aktivitas yang berpotensi meningkatkan pertukaran patogen melalui paparan darah dan cairan tubuh, seperti olahraga ekstrim dengan risiko luka terbuka, pembuatan tato atau pengobatan tradisional menggunakan jarum (akupunktur, bekam, dll), hubungan intim dengan populasi lokal, dsb. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko penularan virus Hepatitis B & C, HIV, serta berbagai Infeksi Menular Seksual lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *