aedes aegypti demam berdarah dengue

Demam Berdarah Dengue Mulai Meningkat Di Bali

Demam Berdarah Mulai Meningkat Di Bali. Sepanjang tahun 2019 lalu, Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari tahun sebelumnya, dan di awal tahun 2020 ini sudah terdata sebanyak 42 kasus. Peningkatan kasus gigitan nyamuk aedes aegypti ini terlihat dari data jumlah pasien DBD yang dirawat di RSUD Buleleng, provinsi Bali.

“Kasus penularan penyakit Demam Dengue di Buleleng hampir setiap tahun terjadi. Bahkan daerah ini dikategorikan endemis penyakit yang disebabkan Nyamuk Aedes Aegypti.”

Jumlah pasien DBD yang ditangani RSUD Buleleng di tahun 2019, menurut Kasubag Informasi dan Humas RSUD Buleleng, I Ketut Budiantara berjumlah 487 orang. Jumlah itu meningkat dari tahun 2018 lalu yang hanya berjumlah 113 orang pasien DBD. Kabupaten Buleleng dianggap krisis perilaku hidup bersih sehat sehingga terjadi endemis berkembangnya nyamuk aedes aegypti.

“Tahun kemarin dari data pasien yang dirawat di RSUD Buleleng jauh meningkat hingga 3 kali lipat, bahkan per tanggal 16 Januari 2020 ini sudah mencapai 42 orang, jumlah yang cukup tinggi di awal tahun,” jelas Budiantara.

Baca Juga: Mengenal Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue

Sementara itu sebaran kasus dari data pasien yang masuk di RSUD Buleleng di tahun 2019, masih didominasi oleh warga dari Kecamatan Buleleng, kemudian disusul Kecamatan Seririt dan Sukasada.

Mengenal Fase Kritis Demam Berdarah Dengue

Terkait pengobatan dan pemulihan penyakit DBD yang menyerang masyarakat hendaknya tidak disepelekan. Banyak kasus kematian terjadi saat panas yang turun dianggap sudah sembuh dan kemudian beraktivitas sebagaimana biasa.

Padahal sesuai dengan ciri khas penyakit DBD, fase kritis itu adalah saat panas badan penderita menurun, jika tak segera mendapatkan penanganan yang benar maka dapat terjadi Sindrom Syok Dengue hingga meninggal dunia.

fase kritis demam berdarah
“Kasus yang sampai meninggal itu kebanyakan karena telat penanganan, karena masyarakat belum paham fase penyakit Demam Dengue sehingga saat panasnya turun dianggap sudah mendingan, padahal itu fase kritis,” ungkap dia.

Penanganan dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Penyakit ini sendiri sebenarnya tidak ada obatnya. Dalam penanganan pasien, observasi tingkat hidrasi dan tanda-tanda pendarahan merupakan kunci dari perawatan pasien DB. Pencegahan DBD antara lain dapat dilakukan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, melakukan fogging, membersihkan pakaian bekas yang menumpuk, menguras bak mandi dan membersihkan genangan air agar tidak menjadi sarana berkembang biak jentik nyamuk aedes aegypti.

Selain itu, vaksinasi juga dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan Demam Berdarah Dengue. Efektivitas vaksinasi demam berdarah dengue paling tinggi di kelompok usia 9 hingga 16 tahun.

Komentar