gonorrhea

Gonorrhea: potensi ancaman kesehatan berikutnya

Meningkatnya infeksi Gonorrhea dan antimicrobial resistant (AMR) GC strain, saat ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di seluruh dunia. Pengobatan yang sebelumnya direkomendasikan sudah tidak efektif untuk melawan kebanyakan strain gonorrhea yang beredar hari ini. Rekomendasi terkini untuk terapi kombinasi sekarang sedang terancam oleh strain resisten yang semakin meningkat secara global.


Tingginya penularan strain Gonorrhea resisten antimikroba di antara populasi dewasa usia produktif

Ada sejumlah alasan mengapa kita menghadapi ancaman kesehatan masyarakat ini. Infeksi Gonokokal (GC) sering terjadi tanpa gejala dan sangat mudah menular. Sebagian orang mungkin juga enggan untuk melakukan pemeriksaan (atau untuk menawarkan pemeriksaan).

Peningkatan kemampuan resistensi antimikroba (AMR) pada bakteri Neisseria gonorrhoeae, terjadi baik di dalam negeri maupun secara internasional. Dikombinasikan dengan meningkatnya penularan infeksi gonorrhea pada usia dewasa dan dewasa muda, penyakit ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Meskipun Gonorrhea dapat diobati, namun angka infeksi terus meningkat secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 78 juta orang terinfeksi GC setiap tahun, sebagai akibat dari penurunan penggunaan kondom, peningkatan hubungan seks bebas, peningkatan urbanisasi, perjalanan internasional, kemampuan untuk mendeteksi penyakit yang buruk, serta pengobatan yang tidak memadai atau gagal.

Gonorrhea: bakteri super yang sangat pintar

Gonorrhea adalah infeksi menular seksual yang bertanggung jawab atas sekitar 445,000 tahun hidup dengan disabilitas (years lived with disability; YLD) pada tahun 2015.

Gonorrhea urogenital (infeksi pada saluran kemih dan reproduksi) tidak menunjukkan gejala pada 40% penderita laki-laki dan paling sering bermanifestasi sebagai uretritis. Infeksi ini juga sering tanpa gejala pada lebih dari setengah wanita, hingga 70% pada beberapa penelitian.

Pada pria, infeksi uretra yang tidak diobati dapat menyebabkan epididimitis, penurunan kesuburan, dan striktur uretra. Pada wanita, jika timbul gejala pun, gejalanya tidak spesifik dan termasuk keputihan yang abnormal, disuria, ketidaknyamanan perut bagian bawah, dan dispareunia. Kurangnya gejala yang terlihat menghasilkan infeksi yang tidak diketahui, yang tentunya kemudian tidak diobati dan dapat menyebabkan komplikasi dan disabilitas yang serius.

“Bakteri yang menyebabkan gonorrhea ini sangat pintar. Setiap kali kami menggunakan golongan antibiotik baru untuk mengobati infeksi, bakteri berevolusi untuk melawannya,” kata Dr Teodora Wi, Petugas Medis di Departemen Kesehatan Reproduksi dan Penelitian WHO.

WHO melaporkan resistensi luas terhadap golongan antibiotik yang lebih tua dan lebih murah — seperti golongan penisilin dan fluorokuinolon. Beberapa negara — terutama negara-negara berpenghasilan tinggi, di mana pengawasan dilakukan dengan baik — menemukan kasus infeksi yang tidak dapat diobati oleh semua antibiotik yang dikenal.

“Kasus-kasus ini mungkin hanya fenomena gunung es, karena sistem untuk mendiagnosis dan melaporkan infeksi yang tidak dapat diobati kurang dilakukan dengan baik di negara-negara berpenghasilan rendah di mana gonorrhea sebenarnya lebih umum terjadi,” tambah Dr. Wi.

Mutasi Pada Gonorrhea Resisten Antibiotika

Christopher Davies, Phd. — seorang peneliti biomolekuler — menjelaskan bahwa semua antibiotik bekerja dengan menargetkan fungsi-fungsi penting dalam kuman tertentu. Antibiotik sefalosporin, yang saat ini direkomendasikan untuk mengobati infeksi Gonorrhea bekerja dengan menonaktifkan penicillin-binding protein 2 (PBP2) pada dinding sel bakteri untuk mencegahnya berikatan dengan sel manusia.

Namun strain resisten, yang telah diidentifikasi di Jepang, Prancis, Spanyol dan yang terbaru di Kanada, menghindari aksi mematikan sefalosporin dengan mencegah antibiotik untuk mengikat pada target protein pada dinding sel bakteri.

Ada sekitar 60 mutasi pada protein PBP2 yang ditemukan di gonorrhea yang resisten. Tim peneliti Davies telah mengidentifikasi enam mutasi yang merupakan akar dari resistensi dan melihat bagaimana mutasi mengubah cara protein bereaksi terhadap antibiotik. “Setelah peneliti dapat memahami bagaimana mutasi bakteri dapat menghindari kinerja antibiotika, obat baru dapat dikembangkan,” kata Davies.

“Apabila obat baru yang efektif tidak segera ditemukan, bakteri Gonorrhea tidak akan mampu dikendalikan oleh antibiotik yang saat ini tersedia. Edukasi dan Intervensi kesehatan masyarakat sangat perlu dilakukan,” kata Gail Bolan, M.D., direktur Divisi Pencegahan Infeksi Menular Seksual, CDC.

Situasi Gonorrhea Resisten Antibiotik di Indonesia

Dari studi yang dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar pada tahun 2016, prevalensi gonorrhea urogenital asimptomatik di antara populasi kota besar di Indonesia sangat tinggi. Di antara 992 peserta, 781 tidak menunjukkan gejala dan diikutsertakan dalam analisis faktor risiko: 439 (56,2%) pria, 258 (33,0%) wanita, dan 84 (10,8%) wanita trans. Usia peserta bervariasi, sebagian besar laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (35,2%) dan pekerja seks perempuan (29,3%).

Di antara 79 isolat urogenital yang dikultur berasal dari 27 peserta yang simtomatik (menunjukkan gejala) dan 52 tanpa gejala, semua isolat rentan terhadap pengobatan dengan ceftriaxone dan cefixime, dan 98,7% isolat rentan terhadap azitromisin. Sebaliknya, resistensi cukup signifikan terjadi terhadap doksisiklin (98,7%) dan siprofloksasin (97,4%).

(AN)

Komentar