kesehatan karyawan

Kesehatan Karyawan: Beban Atau Aset Perusahaan?

Penurunan produktivitas karena masalah kesehatan karyawan selalu menjadi masalah bagi perusahaan. Kerugian tahunan yang ditanggung perusahaan karena penurunan produktivitas ditaksir mencapai 1.8 trilyun dolar AS. Penurunan produktivitas karyawan ini umumnya dikarenakan karyawan yang sakit, waktu yang hilang dalam proses berobat, ketidakhadiran dan kinerja yang tidak optimal.

Menurut sebuah survei dari Bureau of Labor Statistics, untuk setiap satu dolar gaji dan upah yang dikeluarkan untuk karyawan, perusahaan paling sedikit menghabiskan sepuluh sen biaya tambahan untuk jaminan kesehatan karyawan (asuransi, dll), serta biaya kompensasi pekerjaan lainnya. Namun pembiayaan kesehatan karyawan seringkali tidak tepat guna dan tidak efektif untuk menjaga produktivitas tenaga kerja. Mengapa hal ini terjadi?

Anda mungkin bertanya mengapa kesehatan karyawan penting dalam lingkungan kerja anda? Mengapa kesehatan karyawan harus menjadi perhatian para pemberi kerja – dalam hal ini perusahaan?

Kesehatan Karyawan serta dampaknya bagi perusahaan

Karyawan rata-rata kehilangan 8.4 hari setiap tahunnya yang dikarenakan sakit atau cidera, dengan total kerugian sebesar 63 milyar dolar AS. Karyawan dengan penyakit yang berat atau kronis (diabetes, penyakit paru, penyakit jantung, kanker, gagal ginjal, dll) rata-rata tidak bekerja 72 hari setiap tahunnya, dan bekerja dengan kapasitas yang sangat rendah apabila hadir. Apakah karyawan seperti ini yang perusahaan anda pekerjakan? Apakah anda telah menganggarkan kehilangan produktivitas tersebut dan menganggap bahwa hal tersebut dapat diterima?

Argumen yang sering dilontarkan adalah “Semua orang akan sakit dari waktu ke waktu kan?”. Mungkin iya, mungkin tidak. Apabila perusahaan anda mempunyai kapasitas dan protokol yang baik untuk mengurangi risiko dan mencegah penularan penyakit antar karyawan, memantau penyakit kronis, dan mengedukasi karyawan dengan baik, angka tidak masuk kerja karyawan anda mungkin tidak akan setinggi perusahaan yang lalai. Sebagai contoh, penyakit menular yang paling sering dianggap remeh adalah Influenza, namun nyatanya Influenza dan penyakit infeksi saluran pernapasan atas lainnya berkontribusi sebagai keluhan paling tinggi penyebab tidak masuk kerja.

Setiap perusahaan tentu mempunyai prinsip yang berbeda-beda. Ada yang menganggap bahwa kesehatan karyawan adalah beban bagi perusahaan, sehingga mereka hanya dipaksa bekerja dengan jaminan kesehatan minimal yang wajib. Namun ada pula yang mengerti bahwa karyawan yang sehat, kuat, dan tidak berpotensi menyebarkan penyakit di lingkungan kerja akan meningkatkan produktivitas dan motivasi dalam bekerja. Perusahaan yang memprioritaskan kesehatan karyawan, dan memperlakukan mereka sebagai aset umumnya memiliki pekerja yang bekerja lebih nyaman, lebih setia, lebih produktif, dan lebih berkontribusi terhadap pertumbuhan laba perusahaan.

Namun tentunya keputusan untuk memprioritaskan kesehatan karyawan kembali lagi ke pemimpin perusahaan tersebut, serta pertimbangan manfaat dan risiko yang diambil. Apabila pemimpin perusahaan sepakat untuk hanya mementingkan kinerja durasi pendek, dan tidak berkeberatan dengan risiko:

1) karyawan mengundurkan diri karena mendapatkan tawaran yang lebih baik;
2) karyawan tidak masuk kerja karena sakit atau alasan sakit;
3) kehilangan waktu produktif karyawan karena proses berobat yang lama;
4) karyawan memaksakan masuk kerja karena ketakutan pemotongan upah dan meningkatkan risiko penularan penyakit di lingkungan kerja;
5) peningkatan biaya klaim pengobatan karyawan dan keluarga karyawan;

maka praktik pengelolaan perusahaan seperti demikian menjadi sah-sah saja. Meskipun terbukti bahwa memprioritaskan pengelolaan dan pemantauan kesehatan karyawan yang baik sangat bermanfaat untuk pertumbuhan laba dan kenyamanan perusahaan, namun tentunya kebijakan tersebut bergantung pada para stakeholder.

Apakah anda termasuk pemimpin perusahaan yang menyadari bahwa loyalitas dan kesehatan karyawan anda penting untuk pertumbuhan perusahaan anda?