kesiapan indonesia menghadapi wabah virus corona

Bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi wabah Virus Corona?

Indonesia hingga saat ini masih memberlakukan kegiatan seperti biasa, meski negara lain telah menerapkan langkah-langkah ekstrem untuk pencegahan virus ini. Kesiapan Indonesia menghadapi wabah virus corona yang tengah mewabah — dengan kasus terkonfirmasi di atas 2,000 orang di empat benua — dan meningkatkan kecemasan secara global, kerap dipertanyakan oleh warganet.

Bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi wabah Virus Corona?

Dilansir dari The Jakarta Post, siang ini, seorang pelajar di Wuhan yang baru saja kembali ke Jakarta mengatakan bahwa otoritas bandara tidak mengambil langkah pemeriksaan apapun untuk penumpang yang datang dari kota asal virus mematikan tersebut.

Pelajar yang meminta untuk identitasnya dirahasiakan menyerahkan kartu tanda kesehatan (Health Alert Card) yang telah diisi dengan informasi pribadinya, riwayat perjalanan, serta keluhan kesehatan, namun kartu tersebut tidak diperiksa oleh petugas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

“Di Tiongkok, kami ditanyai tentang sekolah kami, berapa lama kami berada di Wuhan dan sudah berapa lama sejak kami meninggalkan Wuhan. Para petugas di Cina mengamati kami dengan cermat sampai mereka yakin mereka bisa membiarkan kami pergi,” kata siswa kepada The Jakarta Post pada hari Sabtu. Hal ini menjadi pertanyaan mengenai kesiapan Indonesia menghadapi wabah Virus Corona.

Kejanggalan pada alur pemeriksaan suspek pasien virus korona

algoritma deteksi dini dan respon di pintu masuk

Sebagai kesiapan Indonesia menghadapi wabah virus corona, Indonesia menerapkan algoritma di atas untuk menyaring kasus suspek. Sebagaimana dapat dibaca di algoritma deteksi dini dan respon di pintu masuk negara dan wilayah, pelaku perjalanan yang masuk dalam jaringan skrining adalah mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke negara terjangkit dan dengan kondisi demam. Mengikuti logika algoritma ini, apabila salah satu kondisi tidak terpenuhi, maka pelaku perjalanan dapat lolos begitu saja.

Hal ini bertentangan dengan laporan beberapa negara yang menemukan kasus terkonfirmasi virus corona tanpa gejala. Contoh dari kasus tersebut terjadi di beberapa negara, seperti Perancis,

Pemeriksaan HAC penumpang kedatangan internasional

Kepala kantor kesehatan bandara, Anas Ma’ruf, mengatakan ada kemungkinan bahwa petugas di lapangan tidak dapat mengumpulkan semua Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Health Alert Card; HAC) karena jumlah penumpang yang sangat banyak.

Namun, dia mengatakan kantornya telah mengumpulkan data manifes penumpang dari maskapai dan menerima laporan bahwa semua penumpang telah diberikan HAC, yang dapat mereka bawa ke fasilitas kesehatan jika mereka melihat gejala apa pun dalam waktu dua minggu setelah kedatangan.

“Jika seorang penumpang mengalami demam dan kesulitan bernafas, kami akan memeriksanya dengan seksama. Namun, banyak dari mereka memasuki negara itu dalam kondisi sehat; itu sebabnya kami memberi mereka HAC sebagai cara untuk berkomunikasi dengan fasilitas kesehatan di daerah,” katanya kepada The JakartaPost pada hari Minggu.

Dia mengatakan penyaringan dan pemeriksaan thermal telah dilakukan. Ia juga menambahkan bahwa untuk memastikan kesiapan Indonesia menghadapi wabah virus corona, kantor kesehatan bandara juga berencana untuk mengerahkan lebih banyak petugas untuk mengintensifkan pemantauan, termasuk penyaringan individu menggunakan thermo guns.

Bagimana dengan suspek kasus yang ada di Indonesia?

Indonesia merupakan negara keenam tertinggi untuk jumlah kedatangan setiap tahun dari Cina, yakni sekitar 1,9 juta kedatangan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebagaimana dikutip dari Antara.

Namun sejauh ini, pemerintah tetap tenang dalam memastikan kesiapan Indonesia menghadapi wabah virus corona, dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menepis kekhawatiran tentang penularan virus di dalam negeri. Dia bahkan menyebut informasi semacam itu sebagai “hoax”.

“Enggak ada yang suspect,” bantahnya saat ditemui usai kegiatan ramah tamah dan silaturahim bersama para direktur dan staf rumah sakit, Poltekes dan sejumlah balai kesehatan di aula Pusat Jantung Terpadu (PJT) RSUP Wahidin Sudirohusodo, Minggu, (26/1).

Terkait dengan soal kelelawar yang disebut-sebut sebagai mediator virus tersebut, sambungnya, sementara sebagian warga Indonesia ada yang mengonsumsi kelelawar, juga hoaks.

“Hoaks itu. Kelelawar dan semacamnya, enggak ada,” kata dia.

Sementara itu, berdasarkan berita terkini, Rumah Sakit Umum Pemerintah Dr. Hasan Sadikin (RSHS), Kota Bandung tengah merawat pasien yang diduga terjangkit novel coronavirus (2019 nCoV). Pasien itu dirujuk dari Rumah Sakit Cahya Kawaluya (RSCK), Kabupaten Bandung Barat pada hari yang sama, Minggu (26/1).

“Memang benar ada pasien yang dirujuk dari RSCK,” kata Rieke, salah satu petugas contact center RSHS saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (27/1).

Selain itu, seorang warga di Jambi, dikabarkan menjadi pasien pertama yang diduga terinfeksi virus corona. Dalam informasi yang beredar, pasien yang tak diketahui namanya itu diduga terinfeksi virus Corona. Dikabarkan, pasien yang diduga terkena virus corona tersebut mengalami gejala flu dan demam setelah pulang dari Cina.

Kini, pasien tersebut disebut-sebut tengah dirawat di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi.

Komentar