medical check up

Medical Check Up Adalah Pemborosan Anggaran!

Medical Check Up Adalah Pemborosan Anggaran! Medical Check Up (MCU) tahunan kerap dijadikan standar pemeriksaan kesehatan yang cukup lazim dilakukan dewasa ini, baik oleh individu secara perorangan maupun diakomodir oleh perusahaan.

Medical Check Up dengan paket “panel pemeriksaan lengkap” seringkali dianggap sebagai metode deteksi dini dan pencegahan penyakit yang paling efektif. Pun banyak perusahaan yang beranggapan bahwa pemeriksaan kesehatan yang semakin lengkap sebagai bentuk fasilitas kesehatan karyawan merupakan sebuah prestise dan menunjukkan Corporate Social Responsibility (CSR) yang baik. Namun, apakah anggapan ini sudah benar?

Screening kesehatan dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium tentu merupakan cara efektif dalam perencanaan strategi kesehatan dan pencegahan penyakit. Namun menurut studi besar di tahun 2012, pemeriksaan kesehatan lengkap tahunan yang lazim dilakukan saat ini tidak mengurangi risiko sakit dan kematian. Lantas apa manfaatnya? Dimana letak kesalahannya?

Medical Check Up Adalah Pemborosan Anggaran Jika Tidak Didasari Strategi Yang Baik

Idealnya, screening memerlukan pendekatan yang berbeda bagi setiap individu. Penggunaan pendekatan pemeriksaan kesehatan lengkap seharusnya hanya dilakukan untuk memperoleh baseline value. Pengulangan tahunan pemeriksaan lengkap dengan harapan menemukan suatu masalah mengindikasikan kurangnya strategi dalam pendekatan yang dilakukan oleh pemeriksa. Dalam proses screening, dr. Nadim — pendiri Vaxcorp Indonesia — mengistilahkan dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Dalam proses mencari jarum dalam tumpukan jerami, kita bisa melakukan setidaknya satu dari dua hal. Pertama, kita bisa memeriksa setiap helai jerami satu per satu hingga menemukan suatu benda yang menusuk. Tentu pendekatan tersebut akan menuai hasil, hanya saja akan memakan waktu dan biaya yang tidak efisien. Cara kedua adalah menggunakan alat yang dapat memisahkan jarum dan jerami berdasarkan perbedaan karakteristiknya masing-masing, tentunya dengan catatan bahwa karakteristik dari benda yang dicari tersebut sudah dipahami,” jelas dr. Nadim.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan dan tes laboratorium merupakan “alat” yang sangat bermanfaat dan tentu diperlukan untuk memperoleh data kesehatan yang sangat berharga. Dengan catatan, pemeriksa memiliki pengetahuan serta metode yang mumpuni dalam menggunakan alat dan mengolah data yang diperoleh sebagai dasar perencanaan strategi pencegahan penyakit dan pemberdayaan kesehatan yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pendekatan dalam pemeriksaan kesehatan perlu didasari dengan algoritma keputusan yang baik. Analisis risiko dan dampak dari sebuah program kesehatan tentunya harus dikaji secara terus-menerus untuk memaksimalkan daya guna, mengidentifikasi dan mengurangi sumber pemborosan biaya.

Terlebih jika program kesehatan tersebut melibatkan perusahaan dengan total ratusan hingga ribuan karyawan, dimana masing-masing perusahaan memiliki perbedaan risiko okupasional terkait dengan industri yang unik. Maka diperlukan panel pemeriksaan kesehatan yang secara spesifik disesuaikan dengan kebutuhan.

Metode dan tujuan dari pemeriksaan kesehatan yang dilakukan harus sesuai dengan kondisi dan nilai dasar (baseline value) individu yang telah didapatkan dari hasil pemeriksaan sebelumnya. Apabila tidak disesuaikan, dan/atau pemilihan metodenya tidak tepat, maka biaya yang dikeluarkan untuk Medical Check Up hanya akan menjadi pemborosan secara finansial. Pun dengan dampak perbaikan kesehatan yang sangat minim.

One Shoe Does Not Fit All

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan dengan konsep one shoe fits all, bersifat impersonal, terburu-buru, dan tanpa strategi pencegahan penyakit yang jelas, tentu merupakan pendekatan manajemen kesehatan yang sangat buruk. Hal ini hanya akan meningkatkan risiko pemborosan biaya Medical Check Up dengan dampak terhadap perbaikan dan pemberdayaan kesehatan yang tidak sebanding, serta return of investment yang sangat tidak menarik.

Wajar apabila mayoritas masyarakat Indonesia, termasuk perusahaan, beranggapan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk kesehatan hanya sebagai expense. Padahal jika data yang didapatkan dapat dikelola dengan baik, maka pemeriksaan kesehatan dapat menjadi investasi yang sangat berguna bagi individu maupun perusahaan.

Terlebih apabila perusahaan telah menyediakan anggaran yang cukup besar untuk biaya medical check up tahunan karyawan, namun tanpa adanya ­follow-up dan follow-through yang jelas terhadap program kesehatan perusahaan yang berkelanjutan, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan. Lalu, apa manfaatnya pengeluaran tersebut selain dianggap sebagai pemborosan anggaran?

Penulis : Dwica Novianti

Komentar