pelaku jasaboga

Peran Pelaku Jasaboga pada Penyebaran Wabah Hepatitis A ke Jakarta

Status Kejadian Luar biasa Hepatitis A yang baru-baru ini cukup menghebohkan wilayah Pacitan-Jawa Timur, sebelumnya sudah dimulai dari meningkatnya kasus Hepatitis A pada murid sekolah SD di Depok-Jawa Barat. Tentunya, penyebaran wabah hepatitis A dipengaruhi oleh beberapa faktor penting.

Selain yang cukup ramai diberitakan bahwa PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) pada tingkat individual menjadi penyebab utama peningkatan kasus Hepatitis A, rendahnya implementasi penjagaan mutu dan higienitas yang baik di antara pelaku Jasaboga pada tingkat UMKM maupun Usaha Makro (restoran, cafe, dsb.) pun berkontribusi secara signifikan. Hal ini sangat penting mengingat hanya sekitar 34 persen masyarakat Indonesia yang lebih memilih untuk mengonsumsi makanan hasil olahan dapur sendiri, dengan mayoritas lebih memilih untuk makan di luar.

Rendahnya kesadaran pelaku Jasaboga dalam memenuhi standar higiene dan sanitasi tentunya juga dipengaruhi oleh kurangnya sosialisasi serta penegakkan ketertiban PERMENKES No. 1096 Tahun 2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga, terutama pada komponen “people”. Secara prinsip, higiene sanitasi jasaboga terdiri atas penjaminan mutu pada aspek 3P (ProductPlacePeople).

Saat ini, umumnya penertiban higiene dari segi produk pangan (product) dan tempat pengolahan (place) sudah cukup baik di bawah otoritas Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Namun, untuk penjagaan mutu dari segi Pengolah Makanan (people) sendiri belum cukup baik. Sebagai contoh, setiap usaha Jasaboga harus memiliki penanggung jawab operasional yang mempunyai Sertifikat Pelatihan Higiene Sanitasi Jasaboga, dan melakukan pemeriksaan serta pencegahan kontaminasi makanan  pada Pengolah Makanan – atau secara baku disebut sebagai Penjamah Makanan (food-handler). Pemeriksaan Higiene Sanitasi umumnya meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yang berfokus pada kuman dengan risiko tinggi pencemaran makanan. Setiap karyawan jasaboga, terutama pengolah makanan, harus mempunyai buku kesehatan yang mencatat hasil pemeriksaan yang dilakukan setidaknya 2 (dua) kali per tahun.

Penulis : dr. Nadim