situasi-DBD-2020

Ribuan Orang Terjangkit DBD Sejak Awal 2020

Musim hujan yang masih bertahan di awal tahun 2020 ini tak hanya menimbulkan banjir dan longsor di beberapa daerah di Indonesia, berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), flu, diare, dan alergi pun mulai bermunculan. Sejak awal tahun 2020 hingga berita ini diturunkan, tercatat ribuan orang menderita DBD dan menyebabkan belasan orang meninggal di beberapa daerah di Indonesia.

Perkembangan Terbaru Situasi DBD (Demam Berdarah Dengue) di Indonesia

Berdasarkan berita yang dimuat di liputan6.com, terdapat 12 kasus penderita demam berdarah dengue di awal tahun 2020 hingga pertengahan bulan Januari dengan satu orang diantaranya meninggal dunia di Kota Madiun, Jawa Timur.

Hingga 24 Junuari 2020, Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa mencatat kasus DBD mencapai 40 kasus. Dari data Dinas Kesehatan Gowa yang diperoleh Tribun, warga penderita DBD ini didominasi oleh anak-anak usia 5 hingga 14 tahun.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, republik.co.id menyatakan bahwa berdasarkan data di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, sejak awal Januari 2020, terdapat 23 warga Kota Tasikmalaya positif terserang penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut.

Sejauh ini, kasus DBD yang cukup tinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penderita penyakit ini di NTT terdapat di 12 dari 22 kabupaten dan kota yakni Kota Kupang, Timor Tengah Selatan, Belu, Alor, Flores Timur, Lembata, Ende, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Sikka sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) DBD. Status KLB ditetapkan karena jumlah warga yang diserang penyakit itu terus meningkat.

Dilansir dari kompas, jumlah penderita penyakit ini di NTT sejauh ini sudah tercatat sebanyak 353 orang. 4 orang menjadi korban meninggal dunia akibat penyakit tersebut dengan 2 orang diantaranya masih berusia dibawah lima tahun (balita).

Situasi penderita DBD di Indonesia mengkhawatirkan

Pada bulan Juni 2014, Dr. Dien Emawati, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengatakan dalam konferensi pers terkait Demam Berdarah Dengue “Sejalan dengan program WHO, kami juga menargetkan di tahun 2020 nanti kasus kematian akibat demam berdarah di Jakarta harus nol persen.”

Namun Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebutkan bahwa jumlah kesakitan akibat DBD secara nasional sebanyak 1.358 kasus mulai awal Januari 2020 hingga 27 Januari 2020. “Kemudian angka kematiannya 12 jiwa,” katanya saat ditemui Republika.com di acara Wuhan coronavirus PB Papdi, di Jakarta, Rabu (29/1).

Angka ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan periode sama pada 2019 yang mencapai 27.344 kasus dengan 236 kematian dari 11 provinsi di 78 kabupaten/kota.

Bahaya Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Anak dan Ibu Hamil

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, bahkan akan menjadi lebih berbahaya jika terjadi pada kelompok yang memiliki imunitas rendah seperti wanita hamil dan bayi. Virus dengue yang berada di dalam tubuh ibu hamil bisa saja diteruskan ke bayi yang sedang dikandungnya.

Selain itu, ibu hamil yang terkena demam dengue berisiko mengalami komplikasi kehamilan. Komplikasi tersebut antara lain seperti preeklampsia, persalinan prematur, risiko melahirkan bedah Caesar, perdarahan yang memungkinkan transfusi darah, maupun perdarahan pasca persalinan.

Bayi yang dikandung ibu penderita Demam Berdarah Dengue juga dapat memiliki beberapa risiko kesehatan, antara lain lahir dengan berat badan rendah, lahir prematur, menderita demam dengue dalam dua minggu pertama kehidupannya (jika ibu hamil terkena demam dengue saat sudah mendekati persalinan, maupun meninggal dalam kandungan.

Pencegahan DBD (Demam Berdarah Dengue) dimulai dari diri sendiri

Semua bahaya ini dapat dicegah dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan perbaikan kesehatan lingkungan. Penerapan yang dapat dilakukan contohnya fogging, dan melakukan 3M plus (menguras bak mandimenutup rapat tempat penampungan air, menggunakan kembali atau mendaur ulang barang bekas agar tidak menjadi sarana berkembang biak jentik nyamuk aedes aegypti).

Selain itu, dapat ditambah dengan plus menaburkan bubuk abate, menggunakan kelambu saat tidur, menggunakan obat anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik di tempat penampungan air, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung atau menumpuk pakaian di dalam rumah yang dapat menjadi tempat bersarangnya nyamuk.

Tindakan pencegahan lainnya yang dapat dilakukan adalah vaksinasi. Efektivitas vaksinasi demam berdarah dengue paling tinggi di kelompok usia 9 hingga 16 tahun.


(SHC)

Komentar