Sertifikat Kawin

Sertifikat Kawin: DKI Jakarta Menjadi Panutan

Janji yang dilafalkan dalam sebuah ikatan suci pernikahan antara dua insan merupakan sebuah hal yang sakral. Pernikahan, dalam esensinya, bukanlah hanya sekedar janji untuk hidup bersama dalam cinta, memiliki Buku atau Sertifikat Kawin, membina keluarga dan anak, dan merintis ekonomi bersama. Pernikahan, bukan juga sebuah alasan untuk meng-“halal”-kan hubungan badan dan menghindari zina (dosa). Lantas apakah esensi dari sebuah pernikahan?

Sertifikat Kawin: langkah awal pernikahan yang bertanggung-jawab

Pernikahan yang bertanggung-jawab berarti memiliki kapasitas, kapabilitas, dan kualitas yang dapat di jaga. Dalam sebuah pernikahan, hari hari mu tak akan selalu indah dan penuh cinta, namun tantangan demi tantangan akan dihadapi. Tanpa kecerdasan, keuletan, dan kesehatan fisik dan mental yang baik, maka patut dipertanyakan keluarga macam apa yang akan terbina? Orang tua perlu memberikan contoh yang baik yang dapat menjadi bekal panutan anak-anak mereka nanti. Maka dalam setiap pernikahan, hal yang paling perlu Anda tanyakan terlebih dahulu adalah:

“apakah pondasi Anda sudah stabil untuk menopang keluarga Anda?”

Tentu saja, banyak dari mereka yang akan menjawab “Siap!” bagaikan prajurit yang siap memenangkan peperangan tanpa mengetahui pertarungan apa yang akan mereka hadapi. Kemampuan untuk melakukan forecasting, serta membuat perencanaan yang matang dan strategis tentunya akan bervariasi pada setiap individu dan pasangan. Maka dari itu, adalah sebuah langkah awal yang baik dari PemProv DKI Jakarta untuk menerapkan Sertifikat Kawin sebagai syarat wajib untuk dapat melakukan pernikahan.

Sertifikat Kawin diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat

Dalam Peraturan Gubernur (PerGub) DKI Jakarta nomor 185 tahun 2017, disebutkan bahwa setiap calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan, yang pencatatannya di Kantor Urusan Agama (KUA) atau Kantor Catatan Sipil, dapat memeriksakan kesehatannya secara sukarela di fasilitas layanan kesehatan yang ditunjuk. Fasilitas kesehatan yang dimaksud adalah Puskesmas, Laboratorium ataupun Rumah Sakit yang baik milik pemerintah maupun swasta. Dalam bab dan pasal yang sama ayat keempat disebutkan juga bahwa pemeriksaan kesehatan tersebut harus dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum tanggal perkawinan ataupun pencatatan pernikahan.

Pada fasilitas kesehatan seperti PusKesMas, Sertifikat Kawin tersebut dapat diterbitkan segera setelah pemeriksaan awal yang dapat dilakukan tanpa dipungut biaya (gratis). Pemeriksaan tersebut mencakup pemeriksaan fisik dasar, Golongan Darah, Hemoglobin, Kadar Glukosa Darah, dan Pemeriksaan Penyakit Menular Seksual (PMS) Sifilis.

Namun, meskipun pemeriksaan dasar tersebut tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan pemeriksaan pasangan pranikah untuk menurunkan angka kejadian penyakit menular, penyakit turunan, dan masalah kehamilan, diharapkan bahwa persyaratan ini menjadi sebuah pencetus (trigger) agar masyarakat dapat memeriksakan kesehatan kedua calon mempelai lebih lengkap lagi. Pemeriksaan dan pencegahan yang penting dilakukan sebelum menikah yang tidak tercakup dalam persyaratan penerbitan Sertifikat Kawin terutama adalah untuk mencegah terjadinya  penularan penyakit seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan HPV (Human Papillomavirus).

Untuk masa depan keluarga Anda, pastikan bahwa Anda dan pasangan benar-benar siap untuk membina rumah tangga sebelum anda mengucapkan “I Do”.